
Iran sedang membuka opsi baru untuk kapal yang melintas di Selat Hormuz, termasuk skema pungutan transit yang dapat dibayar dengan aset kripto. Dalam tahap yang masih berkembang, Tehran ingin memasukkan hak menarik fee kapal sebagai bagian dari kerangka damai jangka panjang, dan sejumlah laporan menyebut aset yang dibahas termasuk Bitcoin untuk kapal tertentu.
Isu ini langsung menarik perhatian karena Selat Hormuz merupakan jalur utama bagi sekitar seperlima aliran minyak dan gas global. Setelah gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran diumumkan, jalur itu belum benar-benar pulih penuh: kapal masih membutuhkan izin Iran untuk melintas, lalu lintas baru mulai bergerak terbatas, dan pelaku shipping memperkirakan pemulihan ke level normal masih akan memakan waktu.
Detail Tarif Belum Final
Bagian yang sudah relatif jelas adalah ambisi Iran untuk mengubah kontrol militernya di Hormuz menjadi mekanisme fee formal. Reuters mengonfirmasi Tehran ingin tarif itu bervariasi bergantung pada jenis kapal, muatan, dan kondisi yang berlaku. Pada saat yang sama, analisis TRM menyebut operator kapal sejak pertengahan Maret telah menghadapi pungutan hingga US$2 juta per kapal, dengan metode pembayaran yang dikaitkan ke yuan, Bitcoin, atau kemungkinan USDT.
Skema itu juga tidak berdiri di ruang kosong. Beberapa kapal-kapal sudah lebih dulu diarahkan menjauh dari jalur tengah, diminta menyerahkan detail kru dan kargo ke perantara yang terkait dengan IRGC, dan setidaknya ada kapal yang dilaporkan membayar ekuivalen sekitar US$2 juta dalam yuan untuk bisa lewat. Itu menunjukkan bahwa model “toll booth” Iran sudah berjalan secara de facto bahkan sebelum sistem resminya benar-benar dipublikasikan.
Masalahnya, hak memungut fee hanya untuk transit bertabrakan dengan prinsip dasar hukum laut internasional. Reuters dan AP sama-sama menyoroti bahwa UNCLOS pada dasarnya melarang negara pesisir mengenakan biaya hanya untuk izin melintas di selat internasional, kecuali untuk layanan spesifik seperti pilotage atau tugging. Jika skema Iran diformalisasi, implikasinya bukan cuma ke energi, tapi juga ke preseden hukum maritim global.
Crypto Bukan Lagi Sekadar Alternatif
Pemakaian kripto dalam skema ini juga bukan sesuatu yang muncul mendadak. Elliptic mengungkap Central Bank of Iran telah mengakumulasi setidaknya US$507 juta dalam bentuk USDT, dengan aliran yang sebelumnya banyak menuju Nobitex lalu bergeser ke cross-chain bridge. Temuan itu menunjukkan aset digital sudah dipakai sebagai bagian dari infrastruktur finansial Iran ketika akses ke sistem perbankan global dibatasi sanksi. =
Skala ekonominya juga besar. TRM memperkirakan total aktivitas kripto terkait Iran mencapai sekitar US$10 miliar sepanjang 2025, setelah pada 2024 berada di sekitar US$11,4 miliar. Saat konflik pecah, exchange domestik bahkan sempat menghentikan pair USDT–toman atas arahan bank sentral untuk memperlambat repricing, tanda bahwa stablecoin sudah menjadi jalur utama antara rial dan market kripto lokal.
Itu membuat opsi tarif berbasis kripto terlihat masuk akal secara operasional, terutama untuk transaksi lintas batas yang ingin dijauhkan dari rel finansial tradisional. Namun detail akhirnya masih kabur: TRM menyebut legislasi Iran mengacu pada rial dan “digital currencies,” sebagian pejabat dan media Iran menunjuk ke Bitcoin, sedangkan laporan Barat juga menyebut USDT sebagai alat pembayaran yang mungkin dipakai di lapangan.
Risiko Baru untuk Energi Global
Bagi market energi, isu utamanya bukan cuma besaran fee, tetapi lapisan risiko baru yang menempel pada setiap pelayaran. Reuters mencatat minyak memang sempat jatuh di bawah US$100 setelah kabar gencatan senjata, tetapi kembali rebound ke area US$96–97 per barel karena keraguan bahwa Hormuz akan segera pulih, ditambah premi asuransi, gangguan logistik, dan ancaman serangan lanjutan ke infrastruktur kawasan.
Untuk saat ini, hal yang benar-benar terkonfirmasi adalah Iran ingin memonetisasi akses ke Hormuz dan mempertahankan kontrol atas jalur itu dalam negosiasi damai. Bagian soal tarif berbasis Bitcoin masih berada pada level laporan dan analisis yang kuat, tetapi belum menjadi kerangka final yang sepenuhnya terbuka. Justru di situlah bobot beritanya: jika skema ini benar-benar berjalan, Selat Hormuz bisa menjadi salah satu contoh paling nyata penggunaan kripto sebagai alat transaksi negara dalam konflik, perdagangan energi, dan penghindaran sanksi sekaligus.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Isi artikel bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau rekomendasi transaksi. Selalu lakukan riset mandiri dan pahami risiko sebelum mengambil keputusan.
Nikmati token paling trending, airdrop setiap hari, biaya yang sangat rendah, dan likuiditas yang komprehensif
Daftar