
Rupiah sempat masuk area Rp17.100 per dolar AS pada perdagangan Selasa pagi. Tekanan itu datang saat Bank Indonesia menyebut mata uang ini sempat jatuh ke rekor rendah Rp17.090 per dolar dan langsung direspons lewat intervensi untuk menahan volatilitas yang berlebihan.

Tekanan tersebut bukan muncul tiba-tiba. JISDOR Bank Indonesia untuk 6 April sudah berada di Rp17.037 per dolar AS, sementara rupiah telah melemah lebih dari 2% sepanjang 2026. BI juga menegaskan stabilisasi rupiah kini menjadi prioritas utama, dengan intervensi di spot market, non-deliverable forward.
Dolar dan Minyak Menekan
Pendorong terbesar pelemahan rupiah saat ini datang dari faktor global. BI menyebut tekanan pada rupiah sangat dipengaruhi reaksi market terhadap perang AS-Israel dengan Iran, yang mendorong perpindahan dana ke aset safe haven dan memperkuat dolar di banyak emerging market.
Lonjakan harga minyak membuat tekanannya makin berat. Pemerintah menyusun APBN 2026 dengan asumsi harga minyak domestik US$70 per barel dan kurs rata-rata Rp16.500 per dolar AS, tetapi harga minyak sempat melesat ke atas US$100 per barel pada Maret.
Pemerintah bahkan menghitung bahwa jika konflik berkepanjangan dan crude rata-rata berada di sekitar US$86 per barel, rupiah bisa berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS dan defisit fiskal berpotensi naik ke 3,18% dari PDB.
Eksposur Indonesia ke energi impor membuat dampaknya langsung terasa. Sekitar seperempat impor minyak mentah Indonesia dan 30% impor LPG berasal dari Timur Tengah. Saat harga energi naik, tagihan impor membesar, beban subsidi ikut naik, dan tekanan ke current account melebar.
Risiko Domestik Belum Hilang
Faktor domestik ikut memperberat pelemahan rupiah. Reuters mencatat defisit anggaran 2025 mencapai 2,92% dari PDB, salah satu yang terlebar dalam lebih dari dua dekade di luar periode pandemi.
Percepatan belanja pemerintah juga terus dipantau market. Belanja negara pada Januari naik 26%, program makan gratis menelan Rp19,5 triliun hanya dalam satu bulan, dan target belanja kuartal I mencapai Rp809 triliun atau sekitar 30% lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu.
Sentimen investor juga tertekan oleh turunnya outlook rating Indonesia. Fitch memang masih mempertahankan rating di level investment grade BBB, tetapi menurunkan outlook menjadi negatif setelah Moody’s melakukan langkah serupa lebih dulu. Fitch menyoroti ketidakpastian kebijakan, potensi pelonggaran batas defisit 3% PDB, dan risiko terhadap external buffers, faktor-faktor yang langsung menekan sentimen terhadap aset Indonesia dan rupiah.
Fokus Market Berikutnya
Dalam jangka pendek, market akan melihat seberapa efektif kombinasi intervensi BI, daya tarik yield instrumen rupiah, dan pembelian SBN di pasar sekunder dalam menahan pelemahan lebih lanjut. Indonesia masih punya bantalan dari sisi eksternal: neraca dagang Februari surplus US$1,27 miliar, dan BI menilai harga komoditas unggulan yang lebih tinggi bisa membantu mengurangi sebagian dampak negatif dari rupiah yang lemah. (Bank Indonesia)
Arah rupiah berikutnya akan sangat ditentukan oleh empat hal: eskalasi konflik Timur Tengah, arah harga minyak, arus modal asing, dan kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal tanpa mengganggu kredibilitas kebijakan. Selama empat faktor itu belum mereda, tekanan ke rupiah masih akan tinggi meski Indonesia tetap memiliki cadangan devisa yang berada jauh di atas standar kecukupan internasional.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Isi artikel bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau rekomendasi transaksi. Selalu lakukan riset mandiri dan pahami risiko sebelum mengambil keputusan.
Nikmati token paling trending, airdrop setiap hari, biaya yang sangat rendah, dan likuiditas yang komprehensif
Daftar