
Bitcoin kembali melemah pada 13 April setelah AS mengumumkan blokade terhadap akses maritim Iran menyusul gagalnya pembicaraan damai dengan Tehran. Dalam pergerakan setelah pengumuman itu, BTC turun ke bawah US$71.000 dan sempat menyentuh area US$70.600, menandai kembalinya tekanan risk-off ke market kripto.

Tekanan itu datang hanya beberapa hari setelah bitcoin sempat pulih di atas US$72.000 berkat kabar ceasefire sementara. Begitu pembicaraan lanjutan runtuh, fokus market langsung bergeser lagi ke risiko eskalasi dan gangguan energi global.
Blokade Hormuz Ubah Sentimen Market
Langkah Washington kali ini lebih spesifik dari sekadar ancaman verbal. U.S. Central Command menyatakan blokade akan dimulai 13 April pukul 10.00 ET dan mencakup seluruh lalu lintas maritim yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran, meski kapal yang menuju destinasi non-Iran tetap diizinkan melintas.
Market energi langsung merespons. Brent naik ke sekitar US$101,91 per barel dan WTI ke US$104,16 setelah blokade diumumkan, memperpanjang reli minyak yang sudah dipicu konflik selama beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini penting karena Selat Hormuz tetap menjadi jalur utama perdagangan energi dunia, dan potensi gangguan tambahan langsung diterjemahkan sebagai risiko inflasi baru.
Kondisi itu membuat bitcoin ikut tertekan bersama aset berisiko lain. Saham Asia melemah, futures AS turun, dolar menguat, dan kekhawatiran soal suku bunga kembali naik karena lonjakan minyak berpotensi memperumit jalur penurunan inflasi global.
Bitcoin Kembali Sensitif pada Minyak dan Makro
Pelemahan kali ini memperlihatkan bahwa bitcoin masih sangat peka terhadap shock makro, terutama ketika headline Timur Tengah langsung mendorong oil higher. Saat harga energi naik cepat, market cenderung mengurangi eksposur ke aset yang lebih volatil dan kembali mencari lindung nilai di dolar atau instrumen defensif lain.
Meski begitu, konteks yang lebih luas belum sepenuhnya bearish. Di tengah perang AS-Iran yang berlangsung sejak akhir Februari, bitcoin tetap berada di atas level awal konflik dan masih mencatat performa relatif lebih baik dibanding sebagian aset tradisional dalam beberapa fase gejolak terakhir.
Area bawah US$71.000 sekarang kembali menjadi zona yang diawasi ketat. Jika market terus melihat blokade ini sebagai langkah yang membuka ruang eskalasi baru, bitcoin bisa tetap tertekan selama minyak bertahan tinggi dan dolar tetap kuat. Sebaliknya, setiap sinyal de-eskalasi berpotensi memicu relief rally seperti yang sempat terlihat pada awal pekan lalu.
Fokus Berikutnya Ada pada Eskalasi, Bukan Sekadar Harga
Perhatian market saat ini bukan hanya pada apakah BTC mampu bertahan di area US$70.000, tetapi pada apakah blokade benar-benar mengganggu arus energi secara material. Selama jawaban atas pertanyaan itu belum jelas, volatilitas kemungkinan tetap tinggi di kripto maupun aset makro lain.
Untuk bitcoin, kombinasi minyak di atas US$100, dolar yang lebih kuat, dan minimnya kepastian diplomatik menjadi tiga sumber tekanan utama dalam jangka pendek. Selama faktor-faktor itu belum mereda, setiap pantulan harga masih rawan berubah menjadi pullback sementara, bukan pemulihan yang benar-benar stabil.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Isi artikel bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau rekomendasi transaksi. Selalu lakukan riset mandiri dan pahami risiko sebelum mengambil keputusan.
Nikmati token paling trending, airdrop setiap hari, biaya yang sangat rendah, dan likuiditas yang komprehensif
Daftar