
Michael Saylor kembali memicu spekulasi pembelian bitcoin baru setelah mengunggah pesan “Think Bigger” bersama tracker akumulasi BTC milik Strategy. Pola seperti ini beberapa kali muncul menjelang pengumuman pembelian mingguan perusahaan, sehingga market langsung membaca unggahan tersebut sebagai sinyal bahwa akumulasi belum berhenti.
Sinyal itu muncul hanya beberapa hari setelah Strategy mengungkap pembelian 4.871 BTC senilai US$329,9 juta untuk periode 1–5 April. Dengan transaksi itu, total kepemilikan perusahaan naik ke 766.970 BTC, dengan total biaya akumulasi US$58,02 miliar dan harga rata-rata US$75.644 per bitcoin.
Posisi Masih Underwater, Akumulasi Tetap Jalan
Laporan resmi ke SEC menunjukkan Strategy mencatat unrealized loss US$14,46 miliar pada kuartal I 2026 dari portofolio bitcoinnya. Perusahaan juga melaporkan associated deferred tax benefit sebesar US$2,42 miliar, sehingga tekanan akuntansi dari penurunan harga BTC sebagian diimbangi oleh manfaat pajak tangguhan.

Artinya, posisi Strategy masih berada di bawah harga pokok rata-ratanya. Dengan biaya rata-rata akumulasi US$75.644 per BTC, setiap fase harga yang bertahan di bawah level itu membuat perusahaan tetap duduk di atas kerugian kertas yang besar, meski strategi akumulasinya sendiri belum berubah.
Pembelian itu tetap ditopang oleh capital raise. Filing terbaru menyebut pembelian bitcoin dibiayai lewat penjualan saham dalam program at-the-market, sementara presentasi keuangan perusahaan sebelumnya menunjukkan STRC telah tumbuh ke nilai agregat US$3,4 miliar dengan dividend rate 11,25%, ditambah cadangan dolar AS US$2,25 miliar yang diklaim cukup untuk menutup lebih dari 2,5 tahun kewajiban dividen dan bunga.
Angka 2,05% Jadi Kunci Model Pendanaan
Sorotan terbaru datang dari metrik yang dibagikan Saylor soal STRC. Menurut angka yang ia ungkap, Strategy hanya membutuhkan kenaikan tahunan bitcoin sekitar 2,05% agar dapat menutup seluruh kewajiban dividen preferred stock secara berkelanjutan tanpa harus terus menerbitkan saham biasa MSTR.
Di atas kertas, ambang itu terlihat rendah jika dibandingkan dengan volatilitas dan performa historis bitcoin. Namun logika tersebut tetap bergantung pada satu asumsi penting: BTC tidak bergerak datar terlalu lama atau turun dalam periode panjang saat kewajiban dividen tetap berjalan dan biaya modal terus menumpuk.
Di titik ini, Strategy bukan lagi sekadar corporate holder yang membeli BTC saat harga turun. Struktur perusahaannya makin menyerupai mesin akumulasi berbasis capital markets, dengan preferred stock seperti STRC berperan sebagai jembatan antara minat investor terhadap yield dan kebutuhan perusahaan untuk terus menambah cadangan bitcoin.
Market Kini Menunggu Filing Berikutnya
Fokus jangka pendek sekarang tertuju pada apakah unggahan Saylor benar-benar diikuti filing pembelian baru. Karena perusahaan rutin mengumumkan update akumulasi melalui 8-K, setiap sinyal seperti ini langsung dipantau ketat oleh market, terutama saat harga bitcoin masih bergerak di bawah rata-rata biaya akumulasi Strategy.
Bagi market kripto, bobot berita ini tidak hanya ada pada ukuran transaksi berikutnya. Yang lebih penting adalah pesan bahwa Strategy masih mempertahankan ritme akumulasi meski portofolionya belum pulih penuh, dan model pembiayaannya kini makin bergantung pada kombinasi apresiasi BTC, permintaan investor terhadap STRC, serta kemampuan perusahaan menjaga akses ke pasar modal.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Isi artikel bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau rekomendasi transaksi. Selalu lakukan riset mandiri dan pahami risiko sebelum mengambil keputusan.
Nikmati token paling trending, airdrop setiap hari, biaya yang sangat rendah, dan likuiditas yang komprehensif
Daftar