
Circle kini menghadapi gugatan class action setelah responsnya dalam kasus Drift Protocol mulai dipersoalkan di pengadilan. Perkara itu tercatat sebagai McCollum v. Circle Internet Group, Inc. et al di U.S. District Court for the District of Massachusetts, diajukan pada 14 April 2026 oleh Joshua McCollum.

Pokok gugatannya berfokus pada satu tuduhan utama: Circle dinilai gagal bertindak saat dana curian dari exploit Drift masih bergerak lewat infrastrukturnya sendiri. Penggugat menuduh sekitar US$230 juta USDC dipindahkan dari Solana ke Ethereum melalui Cross-Chain Transfer Protocol milik Circle selama beberapa jam tanpa intervensi, dalam serangan yang secara total menimbulkan kerugian sekitar US$280 juta.
Aliran Dana Jadi Inti Masalah
Gibbs Mura, firma hukum yang mengajukan gugatan, menyebut Circle “knowingly permitting” para pelaku untuk melepas hasil curian dengan memakai USDC dan CCTP alih-alih membekukan dana tersebut. Dalam uraian gugatan, Circle juga dituduh lalai dan turut membantu konversi aset hasil pencurian, dengan besaran ganti rugi yang nantinya akan ditentukan di persidangan.
Sorotan terhadap Circle membesar karena kasus ini tidak terjadi dalam hitungan menit yang nyaris mustahil dihentikan. Aliran USDC berlangsung lewat 100 lebih transaksi selama sekitar delapan jam, memberi cukup waktu bagi market untuk mempertanyakan kenapa freeze tidak dilakukan lebih cepat.
Kritik itu makin tajam karena Circle sebelumnya memang menunjukkan bahwa mereka punya kemampuan teknis untuk membekukan wallet. Unchained melaporkan Circle sempat membekukan saldo USDC di 16 hot wallet bisnis dalam perkara sipil lain pada 23 Maret, sehingga banyak pihak menilai kemampuan untuk bertindak sebenarnya sudah jelas ada.
Circle Bertahan pada Jalur Rule of Law
Jeremy Allaire membela posisi Circle dengan menegaskan bahwa pembekuan wallet hanya dilakukan jika ada arahan dari aparat atau pengadilan. Dalam penjelasan publik setelah insiden Drift, ia menyebut tindakan sepihak di luar proses hukum berisiko membuka “moral quandary” dan memberi terlalu banyak ruang diskresi pada penerbit stablecoin.
Argumen itu membuat kasus ini masuk ke wilayah yang lebih sensitif daripada sekadar satu exploit. Pertanyaannya kini bergeser ke batas tanggung jawab penerbit stablecoin: apakah kemampuan teknis untuk freeze aset otomatis berarti ada kewajiban bertindak saat serangan sedang berlangsung, atau justru freeze tanpa dasar hukum akan menciptakan preseden yang lebih berbahaya.
Latar belakang serangannya sendiri juga berat. Elliptic dan Chainalysis sama-sama menilai exploit Drift, yang menelan sekitar US$285 juta hingga US$286 juta, memiliki indikator yang konsisten dengan operasi DPRK dan berakar pada social engineering berbulan-bulan, bukan sekadar bug smart contract biasa.
Dampaknya Sudah Meluas ke Struktur Market
Kasus hukum ini datang saat Drift sendiri mulai merombak fondasi platformnya. Setelah exploit 1 April, protokol itu menyiapkan recovery pool dan paket dukungan baru dari Tether serta partner lain, sambil menggeser settlement layer dari USDC ke USDT untuk relaunch berikutnya. Perubahan itu membuat tekanan terhadap Circle tidak lagi bersifat reputasional semata, tetapi juga mulai memengaruhi arah likuiditas produk DeFi besar di Solana.
Fokus market sekarang mengarah ke dua hal: seberapa jauh gugatan ini bisa memaksa standar baru bagi issuer stablecoin, dan apakah freeze power pada akhirnya akan dipandang sebagai kewajiban operasional saat exploit besar terjadi. Terlepas dari hasil akhirnya nanti, perkara ini sudah mengubah diskusi dari soal “bisa freeze” menjadi “kapan wajib freeze.”
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Isi artikel bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau rekomendasi transaksi. Selalu lakukan riset mandiri dan pahami risiko sebelum mengambil keputusan.
Nikmati token paling trending, airdrop setiap hari, biaya yang sangat rendah, dan likuiditas yang komprehensif
Daftar