
Subway menggandeng Ripple untuk memodernisasi sistem treasury globalnya dan mengubah pengelolaan dana lintas negara menjadi lebih real-time. Perubahan ini mencakup operasional keuangan di lebih dari 100 negara, dengan fokus pada percepatan transfer lintas batas, otomatisasi proses, dan visibilitas kas yang lebih baik.
Langkah ini menandai pergeseran besar dari model treasury lama yang masih lambat dan terfragmentasi. Sistem baru yang dipakai memanfaatkan infrastruktur berbasis blockchain dan cloud untuk menyatukan proses keuangan global ke dalam satu kerangka yang lebih terhubung.
Struktur Lama Terlalu Rumit untuk Skala Global
Sebelum modernisasi ini berjalan, Subway mengelola jaringan keuangan yang sangat luas dengan banyak rekening, banyak bank, dan aliran dana yang tersebar di berbagai wilayah. Struktur seperti itu membuat kontrol treasury menjadi berat, apalagi untuk perusahaan dengan ribuan franchisee lintas negara.
Banyak proses juga masih dikerjakan secara manual. Pencatatan kertas, login bank yang terpisah, dan approval tulisan tangan membuat proses bergerak lebih lambat dan membuka ruang untuk kesalahan operasional.
Keterbatasan otomatisasi ikut memperburuk situasi. Sistem yang tidak saling terhubung membuat visibilitas kas global menjadi rendah dan memperlambat pengambilan keputusan keuangan saat perusahaan butuh bergerak cepat.
Ripple Masuk, Operasi Treasury Mulai Dipusatkan
Subway lalu mendorong perubahan dengan beberapa target yang jelas: memusatkan operasi keuangan ke satu sistem, meningkatkan visibilitas kas global secara real-time, mengurangi pekerjaan manual, dan mempercepat pengambilan keputusan. Fokusnya bukan hanya mengganti alat, tetapi menyusun ulang alur kerja treasury agar lebih efisien.
Dalam implementasinya, infrastruktur Ripple dipakai untuk menghubungkan banyak bank dan rekening ke satu sistem yang lebih terintegrasi. Proses penting seperti rekonsiliasi, pelaporan, approval, dan perpindahan dana lintas batas ikut diarahkan ke jalur yang lebih otomatis.
Hasil awalnya cukup besar. Jumlah rekening bank turun dari sekitar 450 menjadi 350, sementara jumlah mitra perbankan turun dari sekitar 70 menjadi 30. Subway juga memproses lebih dari 100.000 transaksi otomatis dalam enam bulan, mencapai sekitar 98% visibilitas posisi kas global, dan mengotomatisasi sekitar 90% proses pembayaran.
Efeknya Bukan Cuma untuk Subway
Perubahan ini juga memperlihatkan arah yang lebih besar di level enterprise. Blockchain dalam kasus ini tidak dipakai untuk spekulasi aset kripto, tetapi untuk kebutuhan bisnis yang konkret seperti treasury management, pembayaran, cash tracking, dan reporting lintas negara.
Kasus Subway menunjukkan bahwa perusahaan besar mulai memakai infrastruktur blockchain untuk menyederhanakan sistem keuangan yang sebelumnya tersebar dan berat dikendalikan. Fokus utamanya jelas: operasi yang lebih cepat, kontrol kas yang lebih rapih, dan pengambilan keputusan yang lebih akurat dalam skala global.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Isi artikel bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau rekomendasi transaksi. Selalu lakukan riset mandiri dan pahami risiko sebelum mengambil keputusan.
Nikmati token paling trending, airdrop setiap hari, biaya yang sangat rendah, dan likuiditas yang komprehensif
Daftar