
Perdana Menteri India Narendra Modi menyerukan penghematan bahan bakar nasional saat lonjakan harga energi global mulai menekan devisa dan kurs rupee. Dalam pidatonya di Hyderabad pada 10 Mei, Modi meminta warga memakai bensin dan diesel secara lebih hemat, menghidupkan lagi pola work-from-home, dan menempatkan penghematan devisa sebagai prioritas nasional.
Seruan itu tidak berhenti pada bahan bakar. Modi juga meminta warga menunda perjalanan ke luar negeri dan pembelian emas selama setahun, mengurangi konsumsi minyak goreng, serta mendorong petani memangkas pemakaian pupuk sampai 50%. Tekanan ini datang saat perang Iran-AS mendorong biaya impor energi India semakin berat.
Akar tekanannya ada pada minyak, rupee, dan devisa
Tekanan utama India datang dari ketergantungan tinggi pada impor energi. Reuters melaporkan krisis nilai tukar sekarang dipicu oleh lonjakan harga minyak akibat perang Iran, sementara rupee baru-baru ini menyentuh rekor terendah terhadap dolar AS dan cadangan devisa ikut berada di bawah tekanan.
Gangguan di Selat Hormuz membuat situasinya makin berat. International Energy Agency menyebut konflik Timur Tengah yang dimulai pada 28 Februari telah menghambat arus energi melalui Hormuz dan menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. IEA juga menegaskan sekitar 20% pasokan LNG global ikut terdampak.
Pasar emas India juga langsung merespons. Reuters melaporkan saham peritel perhiasan India turun tajam setelah imbauan Modi untuk menahan pembelian emas, karena pasar khawatir pemerintah bisa kembali menaikkan bea impor seperti yang pernah dilakukan pada 2012–2013. Pemerintah memang menyebut belum ada rencana menaikkan bea emas dan perak saat ini, tetapi kekhawatiran pasar tetap besar.
Langkah India sejalan dengan respons darurat global
India bukan satu-satunya negara yang bergerak ke jalur penghematan. IEA mencatat banyak pemerintah sudah menerapkan langkah serupa untuk menekan konsumsi energi dan melindungi ekonomi domestik. Filipina, misalnya, mendeklarasikan national energy emergency, meminta instansi publik mengurangi konsumsi bahan bakar, dan membatasi perjalanan non-esensial.
Pakistan juga mengambil langkah keras. IEA mencatat pemerintahnya menerapkan empat hari kerja per pekan untuk pejabat publik, 50% remote work pada hari sisanya, melarang perjalanan luar negeri bagi pejabat, dan mendorong kelas daring penuh. Langkah seperti ini menunjukkan bahwa work-from-home kini kembali dipakai sebagai alat kebijakan energi, bukan sekadar warisan masa pandemi.
IEA juga menegaskan exceptional demand-restraint measures kini sudah meluas, termasuk kampanye hemat energi, kebijakan kerja jarak jauh, dan fuel rationing. Dalam panduan resminya, IEA menyebut tiga hari kerja remote dalam sepekan bisa memangkas konsumsi minyak kendaraan pribadi hingga 20% untuk seorang pekerja rata-rata. Itu menjelaskan kenapa seruan Modi soal work-from-home bukan simbolik, tetapi memang punya dasar kebijakan energi yang nyata.
Fokus berikutnya ada pada daya tahan ekonomi domestik
Yang sekarang diuji bukan cuma kemampuan India menekan konsumsi bahan bakar, tetapi juga seberapa jauh pemerintah dan bank sentral mampu menjaga stabilitas rupee, impor energi, dan defisit neraca pembayaran bila perang berkepanjangan. Reuters melaporkan RBI sedang mempertimbangkan beberapa opsi tambahan, termasuk mengarahkan permintaan dolar dari perusahaan minyak, mendorong instrumen pembiayaan eksternal, dan membuka jalur arus dolar baru ke dalam negeri.
Untuk market, pesan dari New Delhi sudah sangat jelas: krisis energi global kini bukan lagi cerita eksternal, tetapi sudah masuk ke level konsumsi rumah tangga, impor, dan kebijakan nasional. Selama harga minyak tetap tinggi dan pasokan dari Teluk Persia belum benar-benar pulih, seruan hemat energi seperti ini kemungkinan tidak akan berhenti di India saja.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Isi artikel bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau rekomendasi transaksi. Selalu lakukan riset mandiri dan pahami risiko sebelum mengambil keputusan.
Nikmati token paling trending, airdrop setiap hari, biaya yang sangat rendah, dan likuiditas yang komprehensif
Daftar