
Donald Trump menegaskan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir adalah “satu-satunya hal yang penting” baginya, dan bahwa tekanan finansial yang dirasakan warga AS tidak memengaruhi sikapnya dalam pembicaraan soal Iran. Pernyataan itu disampaikan sebelum ia berangkat ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping.
Komentar itu muncul tepat saat inflasi AS kembali memanas. Data CPI April 2026 menunjukkan inflasi tahunan naik ke 3,8%, lebih tinggi dari 3,3% pada Maret, sementara core CPI naik ke 2,8%. Level itu menandai laju inflasi tertinggi dalam hampir tiga tahun dan langsung memperbesar sorotan pada biaya hidup warga AS.
Lonjakan energi kembali jadi sumber tekanan utama
Kenaikan harga energi menjadi pendorong paling besar. BLS mencatat indeks energi naik 3,8% pada April dan menyumbang lebih dari 40% kenaikan bulanan CPI. Harga bensin naik 28,4% secara tahunan, sementara indeks makanan naik 3,2%, menunjukkan tekanan harga tidak hanya berhenti pada pompa bensin.
Harga minyak yang tetap tinggi ikut menjaga tekanan itu. Reuters melaporkan Brent diperdagangkan di sekitar US$106,95 per barel dan WTI di sekitar US$101,52 pada 13 Mei, setelah sebelumnya reli tiga hari berturut-turut karena gencatan senjata Iran yang rapuh dan penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung.
Trump sendiri tidak mengubah nadanya. Saat ditanya seberapa besar kondisi finansial warga AS mendorongnya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, ia menjawab “not even a little bit,” lalu menekankan bahwa prioritasnya hanya satu: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Market kini membaca konflik sebagai risiko inflasi yang nyata
Dampaknya tidak lagi bersifat abstrak. Reuters mencatat lonjakan inflasi April telah mengurangi prospek penurunan suku bunga, sementara kombinasi harga energi yang tinggi dan konflik yang belum selesai membuat pasar mulai menghitung ulang tekanan harga untuk beberapa bulan ke depan.
Wall Street juga mulai lebih hati-hati. Setelah sempat mencetak rekor, S&P 500 dan Nasdaq melemah pada 12 Mei karena inflasi yang lebih panas dari perkiraan dan gencatan senjata Iran yang makin goyah mendorong investor mengambil untung. Artinya, pasar saham belum runtuh, tetapi ruang euforia mulai menyempit saat risiko geopolitik dan inflasi kembali bergerak bersamaan.
Tekanan politik dari dalam negeri ikut naik. Reuters menulis bahwa sebagian Republikan mulai khawatir biaya ekonomi dari perang Iran dapat memicu backlash politik, terutama ketika inflasi dan biaya energi kembali menjadi isu utama menjelang pemilu paruh waktu.
rade-off kebijakannya kini terlihat sangat jelas
Posisi Trump membuat trade-off itu terlihat sangat gamblang: Gedung Putih memilih tujuan strategis di Iran meski tekanan harga di dalam negeri belum mereda. Garis kebijakan ini bisa bertahan selama pemerintah menilai ancaman nuklir Iran lebih besar daripada risiko politik dari inflasi dan mahalnya energi.
Buat warga AS, masalahnya jauh lebih langsung. Selama Selat Hormuz belum kembali normal dan harga energi tetap tinggi, bensin, pangan, dan biaya hidup akan terus menjadi saluran utama dampak perang ke ekonomi domestik. Itu berarti fokus geopolitik Trump dan tekanan finansial rumah tangga kini bergerak di dua jalur yang makin sulit dipertemukan.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Isi artikel bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau rekomendasi transaksi. Selalu lakukan riset mandiri dan pahami risiko sebelum mengambil keputusan.
Nikmati token paling trending, airdrop setiap hari, biaya yang sangat rendah, dan likuiditas yang komprehensif
Daftar