
Otoritas federal AS membuka dakwaan terhadap tiga pria yang dituduh menjalankan rangkaian perampokan dan percobaan penculikan yang menargetkan pemilik kripto di San Francisco, Sunnyvale, San Jose, dan Los Angeles.
Nilai yang berhasil dipaksa keluar dari korban setidaknya mencapai US$6,5 juta, menjadikan kasus ini salah satu contoh paling jelas bahwa ancaman terhadap holder kripto kini tidak hanya datang dari exploit on-chain atau phishing, tetapi juga dari kekerasan fisik.
Tiga terdakwa itu adalah Elijah Armstrong, Nino Chindavanh, dan Jayden Rucker. Dakwaan menyebut mereka berpura-pura menjadi kurir pengantar barang untuk masuk ke rumah korban, lalu memakai ancaman senjata, duct tape, dan zip ties untuk memaksa akses ke akun kripto dan seed phrase.
Modusnya sederhana, tapi sangat brutal
Skemanya bergerak dengan pola yang berulang. Korban lebih dulu menerima panggilan, pengantaran makanan mencurigakan, atau paket yang tidak dipesan. Setelah itu, seseorang yang tampak seperti pekerja delivery datang ke rumah, memaksa masuk, lalu menekan korban agar membuka akun kripto atau menyerahkan akses ke wallet.
Salah satu insiden paling besar terjadi ketika korban dipaksa di bawah todongan senjata untuk masuk ke akun kriptonya, sehingga seorang rekan pelaku bisa mentransfer sekitar US$6,5 juta ke wallet yang dikendalikan kelompok tersebut. Dalam kasus lain di San Francisco, korban disebut kehilangan sekitar US$13 juta dalam Bitcoin dan Ether setelah diserang di rumahnya.
Penangkapan juga sudah dilakukan sejak akhir 2025. Chindavanh ditangkap di Sunnyvale pada 22 Desember, sementara Armstrong dan Rucker ditangkap di Los Angeles pada 31 Desember. Ketiganya kini menghadapi tuduhan konspirasi untuk melakukan perampokan, konspirasi penculikan, percobaan perampokan, dan percobaan penculikan, serta tetap ditahan dalam proses federal.
Wrench attack memang sedang naik
Kasus ini masuk ke kategori yang makin dikenal sebagai wrench attack, yakni pencurian aset kripto lewat ancaman atau kekerasan fisik, bukan lewat pembobolan teknis. Pola ini makin sering muncul karena pelaku tidak perlu menaklukkan sistem kriptografi; mereka cukup memaksa korban menyerahkan aksesnya sendiri.
Data yang beredar dari kalangan intelijen blockchain menunjukkan tren ini memang memburuk. SF Chronicle mengutip CertiK bahwa ada 72 wrench attack yang terverifikasi secara global pada 2025, naik 75% dari tahun sebelumnya. Secara terpisah, ringkasan temuan yang merujuk TRM Labs juga menyebut 2025 menjadi tahun rekor untuk serangan fisik terhadap holder kripto, dengan sekitar 60 kasus yang tercatat dan kemungkinan angka riil jauh lebih tinggi karena banyak kasus tidak dilaporkan sebagai kejahatan kripto.
Akar risikonya juga cukup jelas. Pelaku bisa mengumpulkan data pribadi target dari internet, menghubungkan identitas itu dengan kepemilikan aset, lalu memilih korban yang dinilai punya likuiditas tinggi dan perlindungan fisik yang lemah. Begitu elemen itu bertemu, cold wallet dan seed phrase yang seharusnya aman secara teknis justru berubah menjadi titik rawan di dunia nyata.
Ancamannya kini bergeser ke keamanan pribadi
Kasus ini memperlihatkan bahwa keamanan kripto tidak lagi cukup dibahas hanya dari sisi wallet, exchange, atau smart contract. Holder besar kini juga harus memperhitungkan jejak identitas, pola hidup, kebiasaan menerima paket, dan informasi publik lain yang bisa dipakai pelaku untuk mengubah kepemilikan digital menjadi target kekerasan langsung.
Pesan dari dakwaan ini sangat tegas: makin besar nilai yang tersimpan di aset digital, makin penting juga lapisan perlindungan di luar layar. Wrench attack tidak menyerang blockchain-nya, tetapi menyerang manusia yang memegang kuncinya.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Isi artikel bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau rekomendasi transaksi. Selalu lakukan riset mandiri dan pahami risiko sebelum mengambil keputusan.
Nikmati token paling trending, airdrop setiap hari, biaya yang sangat rendah, dan likuiditas yang komprehensif
Daftar